www.jejakhitam.com
Tajam Mengungkap Peristiwa

Langit Makassar Menguning, Kualitas Udara “Sangat Tidak Sehat”

JEJAKHITAM.COM (MAKASSAR) – Kabut asap kembali menyelimuti langit Kota Makassar, Rabu (14/10/2026) pagi.

Bukan sekadar kabut pagi biasa, data pemantauan menunjukkan kota ini sedang berada dalam fase pencemaran udara terburuk dalam sebulan terakhir.

Pantauan pada pukul 07.10 WITA pagi tadi, Indeks Kualitas Udara (AQI) Makassar tercatat di angka 157 kategori Tidak Sehat. Siang harinya, data live http://Weather.com mencatat lonjakan hingga 169 Unhealthy, dengan suhu terasa 37°C, kelembapan 58% dan kondisi udara : _Smoke_ (berasap).

Polutan utamanya adalah PM2.5, partikel halus berdiameter 2,5 mikrometer yang mampu menembus jauh ke saluran pernapasan hingga aliran darah.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Sulsel di Maros, mengeluarkan peringatan dini, dimana sebanyak 12 daerah di Sulsel diprediksi masuk kategori “Tidak Sehat” pada 13-14 Oktober, meliputi Makassar, Maros, Gowa, Bone, Parepare, Barru, Bantaeng, Bulukumba, Sidrap, Sinjai, Soppeng, dan Wajo.

Pada Selasa (13/10) kemarin pukul 07.00 WITA, konsentrasi PM2.5 di Maros tercatat 71,5 µg/m³ kategori Tidak Sehat, bahkan sempat menyentuh 96,5 µg/m³ pada 10 Oktober lalu.

BMKG Wilayah IV Makassar menjelaskan, ada 2 (dua) sumber yang bertemu, yaitu :

1. Asap Kiriman Lintas Pulau : Pergerakan angin barat membawa massa asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari wilayah Kalimantan, Papua, dan Maluku yang saat ini sedang dilanda karhutla. Ditambah faktor kemarau dan perubahan cuaca di atas Atlantik yang memperkuat aliran asap antar-pulau.

2. Sumber Lokal : Emisi kendaraan bermotor, pembangkit listrik fosil, kegiatan industri, pembakaran sampah terbuka di permukiman, dan debu dari TPA Tamangapa di Manggala yang menjadi penyumbang lokal terbesar PM2.5 di timur kota.

Kondisi ini diperparah dengan kecepatan angin 14-21 km/jam yang justru membawa dan menahan partikel polutan di atas cekungan Kota Makassar.

Paparan PM2.5 tidak bisa dianggap remeh. Dalam jangka pendek, warga akan mengalami iritasi mata, hidung, tenggorokan, dan memperburuk asma.

Dalam jangka panjang, paparan berulang dikaitkan dengan risiko penyakit jantung, bronkitis kronis, penurunan fungsi paru, stroke, hingga kanker paru-paru. Kelompok paling rentan adalah anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita ISPA.

Menyikapi hal itu, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin, yang saat ini tengah berada di Jenewa, Swiss, langsung merespon.

Melalui instruksi virtual, ia memerintahkan Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan untuk membagikan masker gratis bagi siswa sekolah, lansia, dan ibu hamil, serta menyiapkan posko kesehatan di Puskesmas.

Namun hingga berita ini diturunkan, pembagian masker di lapangan terutama di Kecamatan Manggala yang berbatasan langsung dengan TPA Tamangapa belum merata.

Di tengah kondisi udara yang sudah sangat terbebani, praktik pembakaran sampah domestik di permukiman padat seperti di Manggala, Antang, dan Biringkanaya justru akan memperburuk AQI lokal.

BMKG dan DLH mengimbau warga menahan diri untuk tidak membakar sampah hingga kualitas udara kembali normal. (*)

Editor : Budhy JH