www.jejakhitam.com
Tajam Mengungkap Peristiwa

4 Tahun Berstatus UNESCO Global Geopark, Ilham Lahiya Soroti Kinerja Pengelola Geosite Maros-Pangkep

JEJAKHITAM.COM (MAROS) – Status UNESCO Global Geopark yang disandang kawasan Maros-Pangkep selama 4 (empat) tahun, dinilai belum memberikan dampak maksimal terhadap pengelolaan sejumlah situs geologi atau geosite.

Sejumlah aktivis lingkungan menyoroti kinerja badan pengelola geopark, salah satunya dari Lembaga Bumi Mentari (LBM).

Lembaga pemerhati alam dan lingkungan itu menilai, masih banyak geosite yang belum dikelola secara optimal bahkan ada yang sampai terbengkalai.

Ketua Lembaga Bumi Mentari (LBM) Ilham Lahiya, dalam keterangannya mengatakan, bahwa pihaknya sejak awal mendukung penetapan Maros-Pangkep sebagai UNESCO Global Geopark. Namun, ia sangat menyayangkan karena status tersebut dinilai belum dimanfaatkan maksimal untuk mengembangkan pengelolaan seluruh geosite.

“Kita bisa lihat ada 13 geosite di Maros dan 16 di Pangkep. Tapi hanya ada sebagian kecil saja yang ada pengelolanya, selebihnya dibiarkan begitu saja dan bahkan ada yang sudah terbengkalai,” kata Ilham saat di hubungi via selulernya, Minggu (09/08/2026) malam.

Ia bahkan mencontohkan Makkorewa Peak di Labuaja Maros, serta Pulau Cambang-Cambang di Pangkep. Menurutnya, kedua lokasi tersebut sudah lama terbengkalai, tetapi masih tercantum sebagai geosite dalam situs resmi badan pengelola geopark.

“Belum lagi sejumlah site yang tidak dikelola oleh warga setempat, semisal Pantai Kuri, Air Terjun Lacolla dan beberapa tempat yang semestinya itu menjadi tanggung jawab pengelola geopark,” ujarnya.

Ilham menilai, kondisi tersebut bertolak belakang dengan tujuan pengelolaan geopark yang seharusnya mampu mendorong pemanfaatan geosite sekaligus membangun ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Ia juga mempertanyakan efektivitas anggaran yang telah digelontorkan pemerintah provinsi maupun kabupaten untuk mendukung pengelolaan geopark tersebut.

“Jangan sampai pemerintah baik itu provinsi dan kabupaten yang sudah menggelontorkan anggaran ke pengelola justru malah tidak efektif, karena faktanya begitu,” sebutnya.

Ilham turut menyoroti proses revalidasi UNESCO Global Geopark Maros-Pangkep yang berlangsung beberapa hari sebelumnya.

Ia menilai proses tersebut belum terlihat memberikan dampak terhadap pengembangan geosite yang selama ini dinilai belum optimal.

Menurutnya, asesor justru lebih banyak diarahkan ke lokasi yang memang telah berkembang dan ramai dikunjungi, seperti Bantimurung dan Rammang-Rammang.

“Kita tahu, Bantimurung dan Rammang-Rammang sudah bagus. Harusnya ada nilai tambah buat geosite dong,” sebutnya.

Ilham berharap, pengelolaan geosite Maros-Pangkep kedepannya dapat dijalankan secara optimal.

“Kami berharap, keberadaan geosite di wilayah ini dapat terus dipertahankan dan di kelola secara optimal,” tutupnya. (*)

Laporan : Indar (Biro Maros)
Editor : Budhy JH