www.jejakhitam.com
Tajam Mengungkap Peristiwa

Tanah Kliennya Diduga Diserobot Pemkab Wajo, Rahmat : Kami Usut Tuntas

WAJO — Kasus sengketa dugaan penyerobotan dan perampasan lahan antara Abdul Hamid selaku ahli waris dengan Pemerintah Kabupaten Wajo, terus berlanjut.

Pasalnya, lahan sengketa yang berada tepat didepan pasar rakyat Tancung Kelurahan Pincengpute, Kecamatan Tanasitolo tersebut, diduga telah di rampas dan di sertifikatkan oleh Pemerintah Kabupaten Wajo tanpa alasan yang jelas.

Rahmat H. Amahoru dari Reclasseering Indonesia Perwakilan Sulawesi yang mendampingi ahli waris mengatakan, “Keadilan harus ditegakkan. Pemerintah tidak boleh semena-mena merampas apalagi menguasai apa yang menjadi hak dari masyarakat. Kami akan terus mengawal dan mengusut hingga tuntas kasus ini demi tegaknya keadilan dan supremasi hukum.” Ucap Rahmat kepada JejakHitam.Com, Jum’at (19/02/2021).

Rahmat menambahkan, kliennya merasa telah dikriminalisasi dalam hak kepemilikan sebidang tanah milik orang tuanya sendiri.

Seperti yang telah diberitakan oleh mediabahana.com sebelumnya, bahwa kasus sengketa lahan antara ahli waris dengan Pemerintah Kabupaten Wajo ini sempat dimediasi di Komisi III DPRD Kabupaten Wajo, namun tidak ada titik temu.

Rahmat kembali menceritakan kronologis singkatnya kepada JejakHitam.Com.

“Awalnya tanah kliennya tersebut dipinjam oleh Letnan Gontang selaku Kepala Lingkungan untuk dijadikan lapangan sepak bola, dengan perjanjian apabila dikemudian hari, tanah itu tidak dipakai lagi, maka dengan sendirinya akan kembali kepemilik lahan, yaitu Beta, kakek Abdul Hamid.

“Ada surat perjanjian yang ditanda tangani antara pemilik tanah dan kepala lingkungan. Tapi kenapa yang terjadi saat ini, Pemerintah Kabupaten Wajo malah mengklaim tanah itu adalah milik Pemkab. Kan lucu kedengarannya,” ucap Rahmat.

Yang lebih membingungkan lagi, munculnya kepemilikan sertifikat hak pakai No 00004 dengan luas 8297 M2 yang katanya milik Pemerintah Kabupaten Wajo sebagai pemegang hak, yang berlokasi di Kecamatan Tanasitolo, Kelurahan Pincengpute. Padahal lokasi tersebut adalah milik Beta, kakek dari ahli waris, berdasar pada buku pendaftaran huruf C 56 tanggal 31-1-1961 dengan luas 13 are (1300 M2) Desa Bontouse, dan sudah terdaftar di Kelurahan Bontouse No 41 Kecamatan Tanasitolo tanggal 10-6-1989 sesuai dengan surat keterangan obyek ketetapan Ipeda.” Jelas Rahmat.

Berdasar dengan hal tersebut, Rahmat selaku perwakilan Reclasseering Indonesia Wilayah Sulawesi, berencana akan menggelar aksi unjuk rasa dalam rangka menyikapi kesewenang-wenangan Pemerintah Kabupaten Wajo yang telah merampas dan menguasai tanah milik warga.

“Kami berencana akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran sebagai bentuk protes atas kesewenang-wenangan Pemkab Wajo yang telah merampas dan menguasai lahan milik warga.” Tegas Rahmat. (Budhy)