www.jejakhitam.com
Tajam Mengungkap Peristiwa
iklan arya 2

Dana BPNT Warga Desa Bontomanai “Disunat 30 Ribu” Oleh Agen

JEJAKHITAM.COM (BULUKUMBA) – Dugaan adanya pemotongan dana Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) sebesar 30 ribu rupiah yang diduga dilakukan oleh agen BPNT Desa Bontomanai, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, kini jadi buah bibir di kalangan warga masyarakat Desa.

Beberapa warga yang namanya terdaftar sebagai penerima bantuan BPNT, mengeluhkan hal tersebut. Itu diungkapkannya saat mereka ditemui satu persatu dirumahnya.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga Desa yang enggan disebutkan namanya. Ia menuturkan, bahwa total dana bantuan yang semestinya ia terima, itu sebesar 200 ribu rupiah. Namun karena ada pemotongan, dirinya hanya terima 170 ribu rupiah.

“Iya, benar, dipotong 30 ribu. Jadi total yang kami terima itu hanya 170 ribu. Padahal dalam surat tercantum jelas bahwa 200 ribu dan tidak boleh dipotong,” ungkapnya kepada wartawan, Senin 18/04/2022) malam, dikutip dari Beritasulsel.com.

Dirinya mengatakan, bahwa uang BPNT itu ia terima bersama warga Desa yang lain di rumah Agen BPNT Bontomanai yakni seorang laki-laki berinisial H.

“Tidak ada penyampaian sebelumnya dari pak H untuk apa dipotong 30 ribu,” ujarnya.

Hal serupa diutarakan oleh warga Desa yang lain. Mereka mengatakan, bahwa sebenarnya mereka keberatan tapi takut namanya dicoret dari daftar penerima bantuan.

“Sebenarnya kami keberatan, cuma kami takut bersuara, karena bisa saja bulan depan nama saya sudah dicoret sebagai penerima BPNT kalau protes,” tuturnya.

Ia menambahkan, bahwa paling parah waktu bulan 1, 2, dan 3. Kami terima BPNT 600 ribu, namun kami harus belanja dirumah pak H minimal 300 ribu rupiah.

“Paling parah waktu bulan 1, 2, dan 3. Karena uang BPNT yang kami terima sebesar 600 ribu itu, harus kami belanjakan sebesar 300 ribu dirumah pak H. Kami disuruh beli beras, telur dan lain lain yang harganya sangat mahal dari harga pasar,” ujarnya.

“Contohnya beras 12 liter. Harganya dipasaran cuma 72 ribu karena 6 ribu/liter. Tapi dirumah pak H kami harus bayar 100 ribu. Begitu juga telur. Harga telur dipasar cuma 35 ribu/rak, tapi di pak H harganya 45 ribu/rak. Penerima BPNT ratusan orang. Bayangkan kalau mereka semua dipotong masing-masing 30 ribu,” bebernya.

“Hanya di Desa Bontomanai yang begini. Desa Topanda, Tanah Harapan, Batukaropa, dan Bulolohe, tidak ada yang dipotong dan tidak ada yang disuruh belanja di rumah agen, mereka bebas belanja dimana saja,” tambahnya.

Saat kru mencoba mengkonfirmasi agen BPNT tersebut melalui sambungan telepon, dirinya tidak menampik hal itu. Justru ia mengatakan bahwa 30 ribu rupiah itu ia potong sebagai imbalan karena telah mengurus para penerima.

“Saya kan tidak dapat, jadi saya minta karena saya yang bekerja. Karena tidak ada itu orang yang bekerja suka rela toh, makanya saya minta (30 ribu). Itupun kalau mereka ikhlas, tapi kalau mereka tidak mau, saya juga tidak paksa,” ucapnya.

Saat ditanya, dalam bentuk apa sehingga memotong 30 ribu/penerima, padahal di Desa Topanda, Tanah Harapan dan lainnya tidak ada pemotongan. Dengan lugas ia menjawab bahwa dirinya bekerja mengurus para penerima.

“Saya kan yang mengurus penerima, mendatangi per rumah, lalu dibawakan. Kalau di Desa Topanda, tidak diurusi memang sama agennya. Kalau di Bontomanai memang saya yang urus,” ucapnya.

Terkait penerima yang disuruh belanja 300 ribu dengan harga yang tidak sesuai harga pasar, H mengatakan bahwa dirinya bekerja mengurus penerima, meski begitu, dia mengaku tidak memaksa penerima mau belanja berapa saja.

“Saya yang mengurus para penerima sampai ke kantor Camat. Uang 600 ribu itu diterima di kantor Camat. Jadi saya datang ke sana mengkonsultasikan, karena di sana kan banyak penerima, ada 15 Desa. Jadi saya bilang, Desa Bontomanai tolong didahulukan, makanya Desa Bontomanai yang didahulukan,” jelasnya lagi.

“Saya tidak paksa, mau belanja 200, 100, atau 50, silahkan, saya tidak paksa. Saya memang dampingi, kebetulan saya disuruh oleh pihak-pihak tertentu bahwa tolong dampingi para penerima di kantor Camat,” pungkasnya. (Budhy)